Sejarah Singkat
Sejarah Singkat Berdirinya ISMABA
Ikatan Sosial Masyarakat Benyawakan (ISMABA) lahir dari kegelisahan panjang masyarakat terhadap kondisi sosial dan tata kelola keummatan di lingkungan desa Benyawakan. ISMABA resmi didirikan pada hari Kamis, 20 Februari 2025, sebagai bentuk ikhtiar bersama untuk mengembalikan nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan, dan adat baik yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Awal mula berdirinya ISMABA tidak terlepas dari situasi kepengurusan masjid yang dinilai stagnan dan tidak mengalami regenerasi. Selama beberapa periode, kepengurusan berjalan tanpa adanya pergantian yang sehat dan terbuka. Kondisi ini berkembang menjadi persoalan yang lebih luas, mulai dari munculnya pengakuan kepemilikan masjid oleh pihak tertentu, pengelolaan yang dianggap menyimpang dari nilai musyawarah, hingga tidak adanya transparansi dalam pengambilan keputusan maupun pengelolaan keuangan.
Musyawarah yang dahulu menjadi ciri khas kehidupan masyarakat perlahan memudar. Keputusan-keputusan penting tidak lagi dibahas secara terbuka bersama warga. Keadaan ini berlangsung bertahun-tahun, hingga akhirnya menimbulkan perselisihan dan carut-marut di tengah masyarakat. Persatuan yang sebelumnya kokoh mulai tergerus oleh perbedaan pandangan dan rasa ketidakadilan.
Selain itu, terjadi pula perubahan dalam adat dan kebiasaan sosial yang sebelumnya berjalan baik. Salah satu contoh yang paling dirasakan masyarakat adalah perubahan sistem santunan kematian. Dahulu, santunan kematian diberikan kepada seluruh warga tanpa pengecualian sebagai bentuk solidaritas sosial. Namun kemudian, sistem tersebut berubah menjadi program tertentu yang bersifat keanggotaan; warga yang tidak mengikuti program tersebut tidak mendapatkan santunan. Kebijakan ini dinilai tidak melalui kajian yang mendalam dari aspek fiqih, ekonomi, maupun perhitungan matematis, serta belum mempertimbangkan dampak sosial jangka panjang yang dapat memecah kebersamaan warga.
Berangkat dari kondisi tersebut, tujuh tokoh masyarakat - Amin Dimyati, Khumaedi, Hilmi Rahmatulloh, H. Sayuni, H. Rasydin, Emi Suhemi, dan Nazmudin - bersepakat untuk membentuk sebuah wadah perjuangan sosial yang independen dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Mereka menyadari bahwa perubahan harus dimulai dengan membangun kembali kesadaran kolektif, memperkuat nilai musyawarah, serta menegakkan prinsip transparansi dan keadilan.
ISMABA didirikan bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai gerakan sosial untuk mengembalikan adat yang baik, mempererat ukhuwah, serta membangun tatanan masyarakat yang lebih terbuka, adil, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal.
Sejak berdirinya, ISMABA berkomitmen menjadi ruang silaturahmi, musyawarah, dan aksi sosial bagi seluruh masyarakat Benyawakan tanpa membedakan latar belakang. Dengan semangat kebersamaan, ISMABA hadir sebagai harapan baru untuk menata kembali kehidupan sosial yang harmonis, berkeadilan, dan penuh keberkahan bagi generasi hari ini dan yang akan datang.